WANNABE 1: Obat, Pasien, & APD

Webinar “Masalah Obat, Pasien dan APD pada Wabah COVID-19”

Jepang – 28 April 2020.

PPI Jepang menyelenggarakan webinar mengenai wabah COVID-19 pada tanggal 26 April 2020 dengan melibatkan tiga narasumber yang ahli dibidang kesehatan. Narasumber pertama adalah Dr. Ariel Pradipta, Ph.D yang merupakan seorang specially appointed researcher dari  Immunology Frontier Research Center, Osaka University sekaligus Ketua Tim Edukasi Satgas COVID-19 PPI Jepang. Narasumber yang kedua adalah Dr. Hana Kahirina Putri Fasisa, Ph.D, Residen Senior Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (UI). Kemudian narasumber terakhir adalah Ns. Yudi Ariesta Chandra, Dosen Keperawatan Jiwa UI, sekaligus Ketua Tim Logistik Satgas COVID-19 PPI Jepang. Webinar tersebut diikuti oleh berbagai peserta dari Indonesia, Jepang, dan Kuwait, beberapa diantara peserta merupakan perawat yang bekerja di bagian Rumah Sakit.

Dalam webinar ini dijelaskan mengenai perbedaan OTG, ODP dan PDP. Kepanjangan OTG adalah orang tanpa gejala yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19. ODP adalah orang dalam pemantauan, dimana mereka dengan status ini hanya menunjukkan satu gejala. Sedangkan PDP atau pasien dalam pengawasan lebih berat statusnya karena mereka menunjukkan lebih dari satu gejala seperti demam dan gejala ISPA (infeksi saluran pernafasan akut).

Cara untuk mengetahui apakah Anda seorang OTG, ODP atau PDP adalah dengan melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Pemeriksaan untuk OTG dilakukan pada hari pertama dan setelah hari ke-14. Mengingat resiko yang cukup tinggi jika keluar rumah, OTG yang tidak memiliki keluhan berarti bisa melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.  Bagi penyandang ODP dan PDP, pemeriksaan harus menggunakan real-time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)  atau swab test pada hari pertama dan kedua. Bagi penyandang status ODP karantina mandiri juga penting namun harus disiplin dalam minum obat jika diminta oleh pihak rumah sakit. Sedangkan untuk PDP sendiri bisa disesuaikan dengan gejalanya. Apabila gejala yang dialami ringan, cukup dengan karantina mandiri dan minum obat. Jika gejalanya berat, harus diisolasi di rumah sakit dengan pengawasan yang ketat.

Masalah Obat

Mengingat COVID-19 merupakan penyakit baru, belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkan pasien. Beberapa obat yang digunakan untuk sementara waktu adalah obat untuk penyakit malaria yaitu hydrochloroquine. Alasan penggunaan obat ini karena terbukti bisa digunakan untuk mengatasi penyakit SARS yang pertama. Penggunaannya pun harus diresepkan hanya untuk pasien COVID-19 dan diawasi secara ketat oleh dokter. Hal ini dikarenakan oleh efek samping yang ditimbulkan cukup berat.

Masalah Ketersediaan APD

Untuk memenuhi kebutuhan APD di daerah-daerah disesuaikan dengan jumlah pasien dan perkembangan COVID-19. Semakin kecil perkembangannya, semakin sedikit pendistribusiannya. Masalah utamanya adalah jumlah ketersediaannya terbatas dan sangat sulit untuk mendapatkannya. Banyak faktor yang mempengaruhi termasuk kepemilikan alat produksi APD oleh asing serta belum ada aturan terkait harga eceran setiap jenis APD.

Saat ini, rantai distribusi APD dipimpin oleh Satgas COVID-19. Jika ada masyarakat yang ingin menyumbang APD ke rumah sakit, harus memilih APD yang sudah sesuai standar yaitu memiliki ijin edar dari Kementerian Kesehatan RI.

Melalui webinar ini, para narasumber memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk:

  1. Segera mendorong dana penanganan COVID-19 yang diatur dalam Perppu No. 1 tahun 2020 untuk segera digunakan.

  2. Dalam upaya preventif, pemerintah perlu meningkatkan jumlah APD di semua fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan klinik hingga tingkat kabupaten/kota.

  3. Menetapkan harga eceran untuk setiap jenis APD baik untuk keperluan tenaga medis maupun masyarakat umum.

Sedangkan saran yang diberikan bagi masyarakat umum untuk menghindari terjangkit COVID-19 adalah pentingnya meningkatkan kesadaran dan mengikuti aturan pemerintah terkait pencegahan agar tidak tertular. Jika dirasa melakukan kontak dan mengalami gejala ringan, melakukan isolasi secara mandiri selama 14 hari sangat diperlukan. Selain itu, edukasi dan sosialisasi juga perlu ditingkatkan ke daerah-daerah khususnya di wilayah perkampungan. Sebagai penutup, hal terpenting yang harus dilakukan adalah tetap waspada dan jangan panik.

Kontributor :

Nadia Sekar, Tokyo University of Agriculture, Sekretariat Humas PPIJ dan  Reinaldo D Gunawan, Meiji University, Ketua Satgas COVID-19 PPIJ (Notulen)

Ni Luh Bayu Purwa Eka Payani, Waseda University, Redaktur PPIJ (Editor)