WANNABE 3 : Pangan dan Papan Pasca Pandemi: Ketahanan Pangan dan Arsitektur

Webinar “Pangan dan Papan Pasca Pandemi: Ketahanan Pangan dan Arsitektur”

Jepang – 16 Mei 2020

Pada tanggal 10 Mei 2020, Satgas COVID-19 PPI Jepang menyelenggarakan webinar mengenai dampak COVID-19 terhadap kondisi pangan dan papan. Dimoderatori oleh NS. Maryami Y. Kosim, webinar ini mengundang dua narasumber yaitu Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. dan Dr. Eng. Mochamad Donny Koerniawan, S.T., M.T. Dalam webinar yang dibuka oleh Atase Pendidikan dari KBRI Tokyo, webinar ini dibagi menjadi dua sesi.  Sesi pertama mengenai Sustainable Urban Neighbourhood (SUN) dan sesi kedua mengenai keamanan dan ketahanan pangan.

Sesi I: Pentingnya Sustainable Urban Neighbourhood

Pada sesi pertama, Dr. Donny menjelaskan mengenai pentingnya keberlanjutan komunitas bagi perencanaan kota, khususnya pembangunan tempat tinggal. Ada empat aspek yang perlu diperhatikan, yaitu keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan. Keamanan menyangkut tentang pemenuhan standar untuk struktur atau konstruksi bangunan yang kuat dan bisa melindungi dari bencana alam. Keselamatan berhubungan dengan daya tanggap terhadap bahaya. Kesehatan berarti bangunan yang ditempati harus terawat kebersihan dan kesehatannya. Adapun kenyamanan bisa diperoleh jika ketiga aspek sebelumnya bisa terpenuhi.

Ada empat parameter yang digunakan untuk mengukur apakah suatu hunian sehat atau tidak, yakni sistem penghawaan atau sirkulasi udara, sistem pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan. Kesehatan bangunan sangat penting karena berpengaruh pada manusia yang tinggal di dalamnya. Bangunan yang tidak sehat berakibat pada berkembangnya penyakit seperti asma, sakit mata, pusing, mual, gatal-gatal dan penyakit lainnya. Selain menimbulkan penyakit, bangunan yang tidak sehat juga berpengaruh terhadap konsentrasi seseorang saat bekerja. Produktivitas manusia bisa optimal jika suhu ruangan 22-26 derajat Celcius dengan kelembaban 55 persen.

Munculnya virus-virus baru di sekitar kita sedikit banyak disebabkan oleh perilaku manusia yang merusak alam. Dalam menjaga lingkungan dan kesehatan bangunan, seorang arsitek harus memperhatikan iklim, surface, dan aspek geologis. Seorang arsitek harus memperhatikan keberlanjutan (sustainability) lingkungannya.

Sesi II: Keamanan dan Ketahanan Pangan

Terkait pangan, Prof. Arif menyampaikan bahwa pemerintah optimis bisa menyediakan pangan hingga bulan Agustus. Meskipun demikian, di beberapa daerah mengalami defisit pangan. Hal ini berkaitan dengan masalah ketidakpastian distribusi. Adapun setelah bulan Agustus, masalah yang kemungkinan terjadi adalah produksi.

Untuk mengatasi defisit pangan, diperlukan penyelesaian jangka pendek dan menengah. Untuk jangka pendek, langkah-langkah antisipatif yang perlu dilakukan adalah kebijakan logistik agar petani dan konsumen mendapatkan harga yang masuk akal, memperluas akses petani dan memberdayakan desa, memberikan stimulus kepada para petani, serta membentuk skema perlindungan sosial khususnya bagi yang ada di desa.

Untuk jangka menengah, adapun langkah-langkah yang diperlukan adalah yang pertama, sistem yang berbasis komunitas (community-based system) di semua aspek tidak hanya agrikultur. Kedua,  terobosan teknologi untuk membangun akurasi pangan mengingat Indonesia merupakan negara nomor dua dengan sampah makanan. Langkah ketiga diperlukan adalah mengubah perilaku konsumsi dari mengubah dietary atau pola makan hingga menggunakan produksi dalam negeri. Keempat, memproduksi lahan dengan reformasi akses. Terakhir adalah mencegah krisis petani melalui reformasi teknologi pertanian dan memberikan subsidi.

Kontributor :

Nadia Sekar dan Irma Justika, Sekretariat Humas PPIJ (Notulen)

Ni Luh Bayu Purwa Eka Payani, Redaktur PPIJ (Editor)