WANNABE 4 : Akhir Pandemi dan Ekonomi Pasca Pandemi

Webinar PPIJ : Akhir Pandemi dan Ekonomi Pasca Pandemi

Jepang, 23 Mei 2020

Pada tanggal 23 Mei 2020, Satgas COVID-19 PPI Jepang mengadakan webinar dengan tema,”Akhir Pandemi dan Ekonomi Pasca Pandemi”. Dua pembicara yang diundang sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Didik Junaidi Rachbini, Pendiri dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)  dan Elina Ciptadi, B. Comm., M.B.A., Inisiator KawalCovid19.id.

Dalam sesi pertama yang diisi oleh Prof. Didik, beliau menyampaikan bahwa saat ini Indonesia mengalami kondisi yang hampir sama dengan tahun 1997/1998. Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran ekonomi sebesar 0.2 persen.

Prof. Didik juga menyampaikan beberapa skenario dari dampak COVID-19 terhadap perekonomian. Salah satu skenarionya adalah kinerja industri nasional per sektor mengalami kemunduran kecuali transportasi. Sedangkan scenario terburuknya adalah Indonesia mengalami resesi atau pertumbuhan ekonomi yang stagnan atau negative, hingga bertambahnya pengangguran.

Untuk jangka pendek, hal yang harus diperhatikan adalah masalah pangan dan kesehatan. Sedangkan untuk jangka panjang adalah infrastruktur digital. Untuk mengatasi kebuntuan pasar akibat COVID-19, memperkuat pasar konvensional saja tidak cukup, tetapi juga perlu melakukan pemberdayaan pasar virtual. Pasar virtual ini hanya akan berjalan dengan baik jika perizinannya dipermudah. Pasar virtual ini juga perlu diperkenalkan kepada pelaku UMKM agar mampu beradaptasi dengan era digital.

Pada sesi kedua, Ibu Elina didampingi oleh Bapak Ronald Bessie memaparkan mengenai beberapa langkah yang harus terus dilakukan untuk menghadapi “the new normal”. The new normal yang dimaksudkan adalah masker untuk semua, isolasi, melakukan tes secara periodik, transaksi non-tunai, standar kebersihan dan sebagainya.

Langkah pertama yaitu test and trace, dimana pemerintah harus terus melakukan tes rapid atau swab untuk mengidentifikasi ODP, PDP dan OTG. Sayangnya, untuk melakukan test and trace, masih ada kendala seperti adanya stigma yang membuat orang-orang enggan untuk dites. Sehingga sangat penting untuk melakukan pendekatan kepada warga yang juga didukung oleh aparat setempat.

Langkah kedua adalah melipatgandakan kapasitas karantina dan perawatan. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi gelombang kedua dan ketiga, khususnya pada saat arus balik terjadi. Masyarakat Indonesia yang bersifat komunal dan senang berkumpul cenderung membuat banyak orang tidak mau mengakui jika mereka sakit. Hal lain yang diperlukan adalah kesadaran diri sendiri untuk melakukan tes atau mematuhi protoKol yang berlaku seperti menggunakan masker dengan benar.

Langkah ketiga adalah memperhatikan collateral damage atau efek samping dari COVID-19. Efek samping ini misalnya keengganan para orang tua untuk memberikan anak mereka imunisasi karena takut ke puskesmas. Meskipun tetap dihimbau untuk melakukan imunisasi dengan precaution seperti mengatur jam kunjungan, menggunakan masker dan menjaga jarak, masyarakat masih memiliki keraguan. Efek samping lainnya adalah persediaan darah dan obat mulai berkurang hingga banyaknya penyakit lain yang tidak tertangani.

Langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah pentingnya melakukan visualisasi yang tepat untuk melihat data penyebaran COVID-19. Visualisasi ini bisa digunakan untuk melihat daerah mana yang belum terkena dampak hingga daerah yang paling tinggi tingkat penyebarannya.

Dan langkah terakhir adalah meningkatkan awareness terhadap masyarakat di wilayah kabupaten dan kota. Jika tingkat kematian di seluruh Indonesia mencapai 1.000 orang, efeknya mungkin tidak terlalu terasa. Namun jika salah satu orang yang meninggal tersebut berada di lingkungan terdekat mereka, maka mereka perlu berhati-hati.

Kontributor :

Nadia Sekar dan Irma Justika, Sekretariat Humas PPIJ (Notulen)

Ni Luh Bayu Purwa Eka Payani, Redaktur PPIJ (Editor)