Webinar KBRI Tokyo-PPI Jepang: Cara COVID-19 Menyerang Tubuh dan Bagaimana Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Tokyo-Jepang, 11 Mei 2020

PPI Jepang bekerja sama dengan KBRI Tokyo mengadakan webinar bertema Cara COVID-19 Menyerang Tubuh dan Bagaimana Meningkatkan Daya Tahan Tubuh”. Acara yang diadakan pada tanggal 11 Mei 2020 tersebut menghadirkan dr. Wira, PhD Candidate Respiratory Medicine dan dr. Niken sebagai pembicara. Di awal acara Tri Purnajaya, Kuasa Usaha Pemimpin ad interim  KBRI Tokyo, menyampaikan bahwa saat ini masyarakat dunia sedang menghadapi cobaan pandemi, “Saya yakin, di balik musibah pasti ada manfaat dan pembelajaran yang diperoleh”, sahut Beliau. KBRI juga menganjurkan semua WNI di Jepang untuk selalu menjaga kesehatan dan memperhatikan berita-berita yang ada di Jepang terkait COVID-19.

Pada sesi pertama dr. Wira menjelaskan bahwa pada dasarnya virus secara alami terdapat di alam, ada yang hidup di hewan, ada yang di manusia, dan ada di tumbuhan. Akan tetapi, ada kalanya virus ini loncat ke host yang lain. Transmisi COVID-19 dari manusia ke manusia adalah melalui percikan (droplet). Wabah COVID-19 bukanlah suatu fenomena epidemi dan pandemi  yang baru. Jika kita menilik balik ke tahun 2002, terdapat wabah Sars yang berasal dari kelelawar, lalu ditularkan ke musang, dan akhirnya ke manusia. Kemudian pada tahun 2011, terdapat MERS yang juga berasal dari kelelawar lalu ditularkan ke manusia.

Bagaimana virus ini bisa menyebar dengan cepat? Dalam penyebaran virus ada yang disebut ernof, yaitu satuan untuk menghitung penyebaran virus. Pada kasus kapal Diamond Princess, terdapat sekitar dua ernof, yakni dari satu orang, virus dapat menyebar ke dua orang, lalu selanjutnya menjadi empat orang, dan seterusnya. Selain itu, serial interval (waktu yang dibutuhkan untuk penularan ke target berikutnya) COVID-19 adalah 5-6 hari.

Hal ini berbeda dengan flu musiman yang hanya 1,9. Artinya, satu orang yang terinfeksi virus flu musiman hanya menularkan kepada kira-kira satu orang.

Wira menganalogikan virus seperti maling yang memiliki spesialis sendiri, seperti maling motor, maling rumah, dan maling lainnya. “Jadi maling motor tidak bisa langsung maling rumah. Nah begitu juga dengan virus, ada kuncinya untuk masuk ke sel”, ujar Wira.

COVID-19 atau yang juga dikenal sebagai virus SARS-CoV-2 atau memiliki spike yang merupakan kunci untuk masuk ke tubuh manusia. Virus ini menyerang daerah respirasi karena gemboknya ada di sel-sel paru-paru dan ketika virus berhasil masuk ke dalam sel, virus akan melepaskan rna. Jika dianalogikan seperti proses membuat rumah, rna seperti gambaran untuk membangun protein dan sebagainya hingga akhirnya bisa membajak sel dan material-material yang dibutuhkan tubuh virus ini. “Jadi. materialnya diambil dari sel tubuh kita. kemudian dia akan menginfeksi sel-sel yang lainnya, sehingga sel itu bisa mati”, kata Wira. Ketika sel itu rusak, maka virus akan memberi sinyal kepada tubuh dan dia akan memanggil antibodi, saat itulah terjadi peradangan pada manusia. Pada kondisi peradangan, dari pembuluh darah akan melebar dan cairan-cairan akan masuk ke gelembung udara di paru paru dan akibatnya pertukaran oksigen akan terhambat.

Bagaimana cara kita bisa mencegahnya? Dinding virus sebenarnya dapat hancur dengan sabun karena struktur COVID-19 memiliki dinding yang berasal dari lemak atau lipid. “Jadi jangan lupa cuci tangan. Untuk handphone, bisa sering-sering diberi disfentasi dengan alkohol”, pesan Wira. Hal tersebut karena sifat alkohol sama seperti sabun, yaitu mampu menghancurkan dinding virus. Di akhir sesi, Wira mengatakan bahwa kita harus mulai ‘harmoni’ dengan COVID-19 karena kita belum tahu pangkal ujung dari wabah ini.

Pada sesi kedua, dr. Niken menjelaskan tentang cara melindungi diri dari COVID-19 seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari keramaian, dan ketika bersin atau batuk di tutup dengan lengan. Selain itu, apabila mengalami gejala ringan melakukan isolasi mandiri di rumah dan jika gejala memburuk dapat menghubungi petugas medis sesuai dengan protokol yang berlaku di setiap daerah.

Selanjutnya, dr. Niken juga memberikan tips untuk menjaga dan meningkatkan imun tubuh. Di antaranya adalah dengan menjaga pola makan dengan menu sehat dan menghindari makanan dengan kadar gula tinggi.“Apabila dengan dua cara tersebut belum cukup maka dapat mengonsumsi suplemen”, sahut Niken. Hal lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga sistem imun tubuh adalah dengan tidur cukup dan rutin berolahraga. “Menurut WHO, olahraga yang baik adalah 150 menit per minggu untuk olahraga ringan dan 75 menit per minggu untuk olahraga berat”, Niken menjelaskan. Selanjutnya, untuk memperkecil risiko turunnya sistem imun tubuh adalah dengan tidak merokok karena dapat meningkatkan reisiko terkena penyakit yang menyerang paru-paru dan tidak minum alkohol, yang dapat menurunkan imunitas tubuh. Di akhir sesi, dr. Niken juga berpesan untuk menjaga kondisi mental dan mengurangi stres karena kondisi psikologis yang baik akan memperlancar hormon-hormon dalam tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh.

Kontributor :

Nadia Sekar, Tokyo University of Agriculture, Sekretariat Humas PPIJ  (Notulen)

Ardhiani Kurnia Hidayanti, Gifu University (Editor)