Kala Tiba di Jepang, Aku Harus Apa?

Jepang bukan lagi negara tujuan yang asing bagi para peminat beasiswa kuliah di luar negeri. Negeri ini dikenal memiliki salah satu sistem dan kualitas pendidikan yang terbaik di dunia, sehingga banyak menarik teman-teman di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di sini. Pada kesempatan kali ini, kami akan membagikan beberapa tips dan pengalaman selama berkuliah di Jepang.

 

Saat Kedatangan

Jika tiba di Jepang melalui Kansai airport atau Narita airport sebagai tujuan akhir maupun hanya transit, kamu akan langsung mendapatkan KTP Jepang yang dikenal sebagai Zairyu Card (Residence Card).  Setelah sampai di daerah tujuan masing-masing dan mengambil barang bawaan, kamu akan disambut oleh seorang tutor atau pembimbing. Bagi masyarakat setempat, panggilan Sensei merupakan panggilan terhadap orang yang dihormati di bidangnya. Maka dari itu, kamu bisa memanggil pembimbing kamu dengan sebutan Sensei.

Setelah kamu tiba di Jepang, tutor kamu akan menyarankan untuk segera mengurus dokumen administrasi seperti alamat tempat tinggal, asuransi kesehatan, dan My Number di Town Office daerah kamu. Nah, My Number ini dibutuhkan tidak hanya untuk mengirim uang ke Indonesia, namun juga untuk menerima uang/gaji dari hasil part-time job di luar maupun di dalam kampus. Bahkan, My Number merupakan salah satu dokumen yang harus dilengkapi ketika pemerintah Jepang memberikan bantuan finansial akibat pandemi COVID-19. Secara tidak langsung, dokumen ini digunakan Pemerintah Jepang untuk mencatat riwayat transaksi kamu.

Untuk urusan dalam kampus, bagi kamu yang menerima beasiswa diwajibkan melapor diri pada bagian “Global Education Section” di kampus masing-masing untuk mengetahui prosedur penerimaan uang beasiswa. Sebelum itu, kamu harus membuka buku rekening di “Japan Post Bank” terlebih dahulu ya. Jika kamu ingin membuka buku rekening di bank lain, kamu diharuskan menunggu beberapa bulan setelah kedatangan di Jepang. Kamu pastinya tidak ingin melewatkan beberapa bulan tanpa uang beasiswa kan? Di samping itu, beberapa kampus mewajibkan kamu untuk menggunakan JP Bank karena prosedur pengiriman uang yang lebih cepat. 

Bahkan, jika kamu menerima uang dari KBRI Tokyo maupun Osaka, mereka akan meminta kamu memberikan nomor rekening JP Bank. Sebab itu, menurut kami JP Bank akan lebih efisien untuk mengurus keuangan. Selain membuka buku rekening, kamu juga diwajibkan untuk mengikuti tes kesehatan yang diadakan oleh pihak kampus dan melakukan  lapor diri di KBRI melalui portal “Peduli WNI” pada link berikut: https://peduliwni.kemlu.go.id/beranda.html

 

Langkah Pertama di Universitas 

Sehubung dengan penelitian yang akan kalian lakukan, kampus akan menyediakan berbagai peralatan yang super canggih. Namun sebelumnya, kamu harus meregistrasikan diri untuk mendapatkan kartu akses ruangan penelitian. Biasanya, Sensei kamu akan turut membantu dalam proses registrasi sementara tutor kamu akan mengajarkan prosedur penggunaan berbagai alat penelitian. Saran dari kami, catatlah secara detail prosedur penggunaan alat-alat penelitian ya!

Sebagai mahasiswa/i yang baru masuk pada jenjang S1-S3, kamu akan menghadiri upacara penyambutan yang disebut dengan Entrance Ceremony. Di acara tersebut, kamu akan saling mengenal mahasiswa/i baru dari berbagai fakultas yang ada di kampusmu. Selain itu, Sensei kamu juga turut hadir lhoo. So, jangan lewatkan momen foto bersama Sensei ya.

Universitas di Jepang juga menyediakan asrama mahasiswa yang disebut dengan dormitory. Secara umum, dormitory ini berada di bawah pengawasan setiap universitas, sehingga kamu akan kena teguran jika melanggar aturan universitas. Namun, biaya sewa yang dibebankan oleh pihak universitas lebih murah dibandingkan dengan tinggal di apartemen. Menariknya, dormitory lazimnya terletak di domisili kampus sehingga tinggal di dormitory bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menghemat pengeluaran. 

 

Mengapa Studi di Jepang? 

Jepang dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam bidang sains dan teknologi yang ketika disatukan menghasilkan sistem pendidikan yang berfokus pada praktek dan penelitian. Oleh karena itu, pelajar di Jepang memiliki pengalaman aplikasi yang mumpuni dalam bidang studi mereka, bukan sekadar paham teori saja. Kualitas inilah yang memungkinkan para lulusan Jepang dapat bersaing dengan peneliti-peneliti top dunia.

Sebagai pelajar di jenjang S1-S3, kita dituntut untuk memiliki sebuah karya ilmiah sebagai hasil akhir pendidikan. Dalam membuat suatu karya ilmiah, kamu harus memiliki  metode penelitian yang baik. Nah, ada perbedaan yang sangat besar pada sistem pendidikan di Jepang dan Indonesia. Sebagai pelajar di Jepang, kamu diberikan lebih banyak kebebasan dalam menentukan metode penelitian yang terbaik dan dituntut untuk memperluas rencana penelitian (research plan) sehingga bisa mendapatkan data yang lebih detail. Sensei kamu hanya akan memberikan pendapat, namun kamu harus mencari dan memutuskan sendiri metode penelitian yang akan digunakan.  

Sedangkan jika kamu kuliah di Indonesia, semua metode penelitian sudah disediakan dosen pembimbing, sebagai pelajar, kamu hanya melaksanakan rekomendasi dan masukan dosen pembimbing.  Jika hasilnya kurang memuaskan, maka dosen pembimbing yang bertanggung jawab. Selain sisi akademis, Jepang adalah pilihan yang tepat untuk melanjutkan pendidikan dari segi lingkungan belajar. Status Jepang sebagai salah satu negara paling aman di dunia dihasilkan oleh gaya hidup masyarakat Jepang yang  cenderung teratur dan disiplin. Jika kamu kuliah di Jepang, kamu akan mulai membiasakan diri memiliki sikap teratur dan tertib yang ke depannya dapat meningkatkan kualitas karaktermu.

Jika kamu kuliah di Jepang, semua kegagalan diusahakan untuk dipecahkan dan dicari solusinya sendiri. Berat kan? Tentu saja, tetapi ada dua poin yang akan kamu dapat, yaitu pola pikir dalam menghadapi suatu persoalan dan analisis terhadap penelitian dan perkembangan di bidang ilmu tertentu. Dari situ, kita dapat membiasakan diri untuk belajar bertanggung jawab terhadap penelitian sendiri. 

Seringkali kalau belum pernah tinggal lama di Jepang, kesan yang tertanam adalah di Jepang semuanya serba ada dan keren. Tapi perlu diingat, sekolah di Jepang tidak mudah. Cara berpikir, komunikasi, dan perspektif yang dimiliki masyarakat Jepang sangatlah berbeda. Persiapan hati dan mental yang matang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perbedaan tersebut. 

 

Demikianlah kisah merantau 101 ala PPIJ di Negeri Sakura. Saran dari kami, jika kamu tertarik menimba ilmu di Jepang, siapkan tekad, mental, dan jangan pantang menyerah ya!

 

Penulis: Viqqi Kurnianda

Penyunting: Ghafi Reyhan & Moudisha Zeeva