Intermezo III: Perspektif Baru mengenai Peristiwa Lampau

Secara garis besar, sejarah dapat digambarkan sebagai sebuah pelajaran peristiwa masa lalu. Meskipun pengajaran sejarah telah dibuat seobjektif mungkin, sulit untuk menampik bahwa sejarah yang kerap diajarkan berasal dari perspektif sang pemenang. Tidak jarang, kekurangan ini menghasilkan banyak pertanyaan mengenai topik-topik yang dipelajari di kelas sejarah. Ketika buku-buku dan dokumenter sejarah gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, di sinilah andil buah karya para sineas dan penulis terlihat. 

Letters from Iwo Jima (2006)

Bagaimana Perang Dunia II di teater pasifik dipandang dari perspektif Jepang? Pertanyaan tersebut pasti banyak timbul ketika kita selesai menyelesaikan film yang menyorot teater pasifik dari perspektif sekutu seperti Midway (2019) dan The Pacific (2010). Seringkali, buku sejarah menggambarkan Jepang dalam Perang Dunia II sebagai kekuatan ekspansionis yang berambisi menjadikan wilayah Asia Timur Raya sebagai daerah kekuasaan mereka sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa Jepang berperang luput dari pembahasan. Kendati disutradarai oleh Clint Eastwood, film ini cukup berhasil memberikan sebuah potret akurat mengenai tentara kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II, terutama peran harga diri, kehormatan, dan dedikasi terhadap sang kaisar dalam mendorong mereka untuk bertempur sampai titik darah penghabisan. Pada saat yang sama, film ini juga dapat menyorot sisi humanis para tentara kekaisaran dengan tetap menekankan bahwa sama seperti pasukan sekutu, mereka adalah pria biasa yang memiliki penunggu setia di rumah dan membunuh tidak serta merta karena keinginan, namun sebagai sebuah kewajiban untuk membela negara. Melalui penggambaran tersebut, film ini secara tidak langsung berusaha mematahkan stereotip yang menyandangkan gelar pembunuh berdarah dingin pada tentara kekaisaran dan tetap menunjukkan bahwa masih banyak anggota tentara kekaisaran yang bersikap humanis terhadap musuh. Salah satu hal yang perlu diingat sebelum menonton film ini adalah kekerasan yang terlampau ekstrim dalam film. Namun, bila kalian menyukai film-film Perang Dunia II seperti Saving Private Ryan (1998), maka film ini patut ditonton. 

Pulang (2012)

Sedikit berbeda dengan seri intermezo sebelumnya, buku yang dibahas kali ini tidak berkaitan dengan Jepang ataupun berasal dari seorang penulis Jepang. Pulang adalah sebuah novel Indonesia yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Sama seperti Letters from Iwo Jima, novel ini berusaha mengangkat sisi lain sejarah dengan menarasikan perpolitikan Indonesia dari Era Orde Lama sampai Reformasi melalui perspektif keluarga seorang tahanan politik. Sekilas, tema novel ini akan terlihat berat dan menjenuhkan, namun melalui takaran romansa, warna tokoh, dan variasi gaya bahasa yang pas novel ini berhasil mengemas tema yang sulit secara menarik dan mengalir. Novel ini menitikberatkan alurnya pada dinamika hubungan antara kelompok politik berbeda sepanjang sejarah Indonesia, termasuk interaksi antara para kaum “kanan” dan “kiri” serta pandangan dan perilaku Orde Baru terhadap tokoh-tokoh yang dianggap mesra dengan komunisme. Singkat kata, jikalau Letters from Iwo Jima memanusiakan tentara, novel ini memanusiakan para tokoh politik dan menggambarkan mereka sebagai manusia biasa yang terperangkap dalam pergelutan politik Blok Timur dan Barat. 

Kini setelah membaca ulasan mengenai kedua karya tersebut, pastinya teman-teman sudah tidak sabar kan untuk mendalami sejarah dari lensa alternatif. Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo mulai menonton dan membaca!

Penulis: Ghafi Reyhan