Hanko: Stempel Khusus Ciri Khas Masyarakat Jepang

Dahulu, hanko adalah benda yang sangat berharga karena bahan pembuatan dan cara pembuatannya serta hanya boleh digunakan oleh keluarga kaisar Jepang, kaum bangsawan, dan para samurai. Baru setelah Periode Meiji, hanko mulai digunakan masyarakat awam karena adanya hukum sertifikasi pada zaman tersebut yang memperbolehkan masyarakat Jepang pada umumnya untuk menggunakan hanko pribadi.

Bagi orang Jepang, hanko adalah benda sehari-hari yang digunakan untuk dokumen-dokumen administrasi bank, asuransi, dan lain-lain. Ada pula hanko yang menjadi ‘tanda tangan’ perusahaan, yaitu Kaisha jitsu-in, yang memiliki nilai  berharga dan harus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini, serta sejarah panjang hanko, membuat masyarakat Jepang memandang hanko sebagai sesuatu yang dihormati dan representasi identitas diri.

Hanko digunakan untuk hal-hal resmi yang bersifat kontraktual. Misalnya, hanko menjadi kewajiban mutlak jika kita ingin memulai perusahaan atau membeli rumah di Jepang, dan ingin tinggal di Jepang untuk jangka panjang.  Hanko tersendiri dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan penggunaannya lho:

    1. Jitsu-in, digunakan saat menandatangani kontrak dan harus diregistrasi terlebih dahulu di kantor pemerintah (kuyakusho). 
    2. Ginko-in, stempel yang khusus digunakan untuk transaksi finansial dan harus diregistrasi terlebih dahulu di bank.
    3. Mitome-in, hanko pribadi yang dapat digunakan untuk hal sehari-hari seperti mengkonfirmasi penerimaan paket dan tidak harus memuat nama asli kalian.

Dari kiri ke kanan: contoh jitsu-in, ginko-in, dan kaku-in (semacam mitome-in) yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan (Gambar: Hanko Square)

Besarnya peran hanko dalam masyarakat Jepang menjadikan hanko sebuah barang yang mudah ditemukan, seperti di toko buku, online, maupun toko khusus hanko (hanko-ya) dan tersedia dalam berbagai bahan seperti plastik, kayu, dan bahkan batu, dengan harga yang variatif, walau hanko dengan nama Jepang umum memiliki harga di kisaran 100 yen. 

Hanko siap pakai dengan nama-nama Jepang umum yang bisa ditemukan di toko-toko hardware (Gambar: Tokyo Cheapo)

Namun, bagi warga asing yang tidak menetap begitu lama di Jepang seperti pelajar, hanko tidak akan banyak dibutuhkan di kegiatan sehari-hari seiring banyak bank di Jepang tidak mengharuskan orang asing memilikinya untuk membuka rekening. Jadi, hanko tidak wajib dimiliki oleh teman-teman pelajar. Kalau kalian bertemu keadaan yang ternyata memerlukan hanko, proses membeli hanko dan registrasinya bisa diselesaikan dalam tiga hari atau kurang dari itu, jadi teman-teman tidak usah buru-buru membeli hanko sesampainya di Jepang.

Satu hal yang perlu diingat sebagai warga asing, meskipun masyarakat Jepang menggunakan hanko bertuliskan kanji, kita dapat menemukan hanko yang menggunakan katakana atau huruf Latin dan karena nama asli kita atau sebagian dari nama kita harus ada di stempelnya, kita tidak bisa meng-kanji-kan nama kita untuk hanko resmi ya…

Hanko imut tidak bisa dipakai sebagai hanko resmi yaa… (Gambar: DigJapan)

Hari ini, perkembangan teknologi telah menjadikan tanda tangan digital sebagai alternatif populer dari hanko. Perubahan ini dipercepat oleh pandemi COVID-19 seiring pengurangan mobilitas membuat banyak perusahaan  terpaksa meningkatkan digitalisasi. Hanko perusahaan-perusahaan sekarang dapat ‘dibawa pulang’ oleh karyawan untuk ditempelkan pada dokumen digital. Merunut Komazaki Hiroki, direktur suatu organisasi nirlaba di Jepang, perkembangan ini merupakan terobosan produktivitas administrasi. Walaupun cap-cap digital tersebut tetap berbentuk cap hanko tradisional, ada risiko punahnya hanko fisik yang menjadi ciri khas budaya Jepang.

Kendati demikian, hanko tetap memiliki nilai budaya yang tinggi dalam masyarakat Jepang dan tetap menjadi benda yang menarik untuk dimiliki, baik sebagai mitome-in maupun cinderamata belaka.

Penulis: Jonathan Widjaja

Referensi 

https://www.nippon.com/en/news/fnn2020042836711/

https://tokyocheapo.com/shopping-2/hanko-japanese-personal-seals/